MEI 2013
- Kamis, 23 Mei 2013
Bedah Silabus Penalaran Part 1 ( Pendahuluan & Sejarah Retorika) Sekret Fordimapelar - Senin, 27 Mei 2013
Bedah Silabus Penalaran Part 2 ( Dasar-Dasar Retorika ) Sekret Fordimapelar - Kamis, 30 Mei 2013
Bedah Silabus Penalaran Part 3 ( Komunikasi ) Sekret Fordimapelar
- Senin, 3 June 2013
Bedah Silabus Penalaran Part 4 ( Public Speaking) Sekret Fordimapelar - Kamis, 6 June 2013
Bedah Silabus Penalaran Part 5 ( Lampiran Evaluasi Komunikasi) Sekret Fordimapelar - Senin, 13 June 2013
Bedah Buku “GANBATTE” karya A.A. Azhari Sekret Fordimapelar - Kamis, 17 June 2013
Pemutaran Dekumenter Prof. Stephen Hawking “Alien” Part 1 Sekret Fordimapelar - Senin, 20 June 2013
Pemutaran Dekumenter Prof. Stephen Hawking “Time Travel” Part 2 Sekret Fordimapelar - Kamis, 27 June 2013
Narkoba Era Mahasiswa(Memperingati Hari Anti Narkoba Sedunia,26 June) Sekret Fordimapelar
Divisi Penelilitian
Temu Ilmia Surabaya (Cooming Soon)
Diklat Penelitian Se ukm Surabaya
Info Buat Diskusi
Forum Siang (14.00-16.00)
forum Malam (21.00 - 22.00)
Cp: Ifa 085730638105
Salam Kritis, Santun & Berilmu
Kegiatan Diklat Pengurus 2012-2013 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fordimapelar Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya.
Click here for more comment and view
Pada tulisan ini pula, saia ingin berterima kasih kepada Bapak Djoko Budi Utomo (Dosen Fakultas Psikologi), Bapak Lukman (LensaIndonesia.com) dan Bapak Achluddin Ibnu Rochim (Dosen Fakultas FISIP), yang telah menyempatkan waktunya menjadi pemateri di acara Diklat ini.
Sekali lagi, saya ucapkan selamat kepada pengurus baru UKM Fordimapelar, somoga program yang telah direncakan setelah diklat kemarin dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Pesan saya, jangan pernah takut untuk berbeda dalam mengasah otak logis kalian dalam menjalani pendidikan di kampus, dan selalu jujur dengan hati nurani dalam melihat fakta yang ada. Berani untuk mengatakan yang kebenaran adalah ujian yang akan kalian temukan dalam memaparkan kenyataan di lapangan. Jaga selalu kekompakan dan jangan lupa untuk bersenang-senang dalam menggali minat dan ilmu yang akan kalian tempuh selama satu tahun mendatang. Semoga Tuhan selalu melindungi dan
Selamat berkarya..!!!
Kartini hidup dan berjuang di rumah, di pasar, di jalan, bahkan di Universitas. Belakangan ini Karini boleh sedikit bernafas, pergeseran paradigma dalam memandang dirinya mulai tampak dengan munculnya berbagai kesempatan dan pengakuan perannya diberbagai sektor kehidupan. Seperti yang pernah diramalkan oleh Jhon Naisbeth dan Patricia Aburders yang mengatakan bahwa abad 21 ini adalah abadnya perempuan. Di dunia barat ramalan itu mungkin memang terbukti, tapi bagaimana dengan Indonedia atau lebih dekat lagi dengan kampus kita, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya?
Tercatat perbandingan jumlah mahasiswa perempuan dn laki-laki tiap tahunnya meningkat, hal ini tentu saja sangat mengembirakan karena membuktikan bahwa perempuan semakin sadar akan pentingnya pendidikan dalam kelangsungan hidupnya. Tapi kemudian hal itu menjadi ironi, karena ternyata sampai tahun tercatat tidak pernah lebih dari 8 orang perempuan yang menduduki posisi ketua Unit Kemahasiswaan (UKM) di Untag.
Padahal dalam soal prestasi akademik, perempuan selalu patut untuk di perhitungkan. Terbukti pada tahun 2004, dari 10 lulusan terbaik, 8 orang diantaranya adalah perempuan. Tapi kemudian, mengapa kiprah perempuan dibidang Organisasi Kemahasiswaan tidak sebaik prestasi akademisnya? Ketertinggalan perempuan dari laki-laki di bidang Organisasi juga terbukti tidak adanya Presiden BEM yang dipegang perempuan untuk masa bakti 2003/2004. Sebetulnya aoa yang menjadi penyebab utama dari tidak maksimalnya kiprah perempuan dibidang Organisasi yang ada di Untag? Jawabannya mungkin bisa bermacam-macam tergantung dari segi mana kita memandang. Dari hasil wawancara dengan beberapa perempuan di Untag, kebanyakan dari responden menjawab karena keengganan perempuan untuk berhubungan dengan birokrasi, adanya pandangan sebelah mata dari pihak laki-laki, bahwa perempuan hanya mampu sebagai konseptor bukan dinamisator, tidak mampunya perempuan untuk total dalam soal waktu dan manajemen konflik. Dalam hal ini, perempuan juga menyalahkan adanya budaya yang tidak mendukung aktifitas organisasi perempuan di masyarakat.
Laki-laki (Untag) sebagai partner perempuan dalah kehidupan menyatakan bahwa perempuan itu kurang mampu mengambil keputusan, perempuan juga biasanya pasif dan kurang inisiatif dalam melakukan tindakan-tindakan pemecahan masalah. Dalam menghadapi permasalahan dalam organisasi, perempuan juga cenderung tidak fokus.
Segala argument di atas banyak berakar dari kondisi sosial budaya yang ada dalam masyarakat. Masih kuatnya pandangan bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin membuat laki-laki jadi kurang mau di pimpin perempuan, sedangkan perempuan sendiri dengan segala keterbatasan biologis yang dimiliki terlanjur terformat untuk menerima hal tersebut. Hal yang harus digaris bawahi kemudian adalah, dalam organisasi tidak hanya diperlukan pemimpin yang kuat fisik serta pemikirannya, tapi juga punya kemampuan untuk memahami keinginan atau kebutuhan kelompok. Sepertinya, kemampuan semacam itu tidak hanya dimiliki oleh laki-laki. Selanjutnya, pilihan diberikan kepada perempuan untuk tetap tinggal diam atau memilih untuk mulai bergerak! (Iz/Dee)
tulisan diambil dari Jurnal 'Oase' No. 2 Tahun I,
diterbitkan oleh Fordimapelar; April-Mei 2004
Macam-macam Diskusi
- Seminar: Pertemuan para pakar yang berusaha mendapatkan kata sepakat mengenai suatu hal.
- Sarasehan/Simposium Pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat prasaran para ahli mengenai suatu hal/masalah dalam bidang tertentu.
- Lokakarya/Sanggar Kerja Pertemuan yang membahas suatu karya.
- Santiaji Pertemuan yang diselenggarakan untuk memberikan pengarahan singkat menjalang pelaksanaan kegiatan.
- Muktamar Pertemuan para wakil organisasi mengambil keputusan mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama.
- Konferensi Pertemuan untuk berdiskusi mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama.
- Diskusi Panel Diskusi yang dilangsungkan oleh panelis dan disaksikan/dihadiri oleh beberapa pendengar, serta diatur oleh seorang moderator.
- Diskusi Kelompok Penyelesaian masalah dengan melibat kan kelompok-kelompok kecil.
Diskusi ditinjau dari tujuannya dibedakan menjadi
- The Social Problem Meeting, merupakan metode pembelajaran dengan tujuan berbincang-bincang menyelesaikan masalah sosial di lingkungan
- The Open ended Meeting, berbincang bincang mengenai masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dimana kita berada;
- The Educational Diagnosis Meeting, berbincang-bincang mengenai tugas/pelajaran untuk saling mengoreksi pemahaman agar lebih baik.
Ditinjau dari Bentuknya, dibedakan menjadi :
- Whole Group, merupakan bentuk diskusi kelompok besar (pleno, klasikal,paripurna dsb.)
- Buz Group, merupakan diskusi kelompok kecil yang terdiri dari (4-5) orang.
- Panel, merupakan diskusi kelompok kecil (3-6) orang yang mendiskusikan objek tertentu dengan cara duduk melingkar yang dipimpin oleh seorang moderator. Jika dalam diskusi tersebut melibatkan partisipasi audience/pengunjung disebut panel forum.
- Syndicate Group, merupakan bentuk diskusi dengan cara membagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari (3-6) orang yang masing-masing melakukan tugas-tugas yang berbeda.
- Brainstorming, merupakan diskusi iuran pendapat, yakni kelompok menyumbangkan ide baru tanpa dinilai, dikritik, dianalisis yang dilaksanakan dengan cepat (waktu pendek).
- Simposium, merupakan bentuk diskusi yang dilaksanakan dengan membahas berbagai aspek dengan subjek tertentu. Dalam kegiatan ini sering menggunakan sidang paralel, karena ada beberapa orang penyaji. Setiap penyaji menyajikan karyanya dalam waktu 5-20 menit diikuti dengan sanggahan dan pertanyaan dari audience/peserta. Bahasan dan sanggahan dirumuskan oleh panitia sebagai hasil simposium. Jika simposium melibatkan partisipasi aktif pengunjung disebut simposium forum.
- Colloqium, strategi diskusi yang dilakukan dengan melibatkan satu atau beberapa nara sumber (manusia sumber) yang berusaha menjawab pertanyaan dari audience. Audience menginterview nara sumber selanjutnya diteruskan dengan mengundang pertanyaan dari peserta (audience) lain Topik dalam diskusi ini adalah topik baru sehingga tujuan utama dari diskusi ini adalah ingin memperoleh informasi dari tangan pertama.
- Informal Debate, merupakan diskusi dengan cara membagi kelas menjadi 2 kelompok yang pro dan kontra yang dalam diskusi ini diikuti dengan tangkisan dengan tata tertib yang longgar agar diperoleh kajian yang dimensi dan kedalamannya tinggi. Selanjutnya bila penyelesaian masalah tersebut dilakukan secara sistematis disebut diskusi informal. Adapun langkah dalam diskusi informal adalah : (1). menyampaikan problema; (2). pengumpulan data; (3). alternatif penyelesaian; (4). memlilih cara penyelesaian yang terbaik.
- Fish Bowl, merupakan diskuasi dengan beberapa orang peserta dipimpin oleh seorang ketua mengadakan diskusi untuk mengambil keputusan. Diskusi model ini biasanya diatur dengan tempat duduk melingkar dengan 2 atau 3 kursi kosong menghadap peserta diskusi. Kelompok pendengar duduk mengelilingi kelompok diskusi sehingga seolah-olah peserta melihat ikan dalam mangkok.
- Seminar, merupakan kegiatan diskusi yang banyak dilakukan dalam pembelajaran. Seminar pada umumnya merupakan pertemuan untuk membahas masalah tertentu dengan prasaran serta tanggapan melalui diskusi dan pengkajian untuk mendapatkan suatu konsensus/keputusan bersama. Masalah yang dibahas pada umumnya terbatas dan spesifik/tertentu, bersifat ilmiah dan subject approach.
- Lokakarya/widya karya, merupakan pengkajian masalah tertentu melalui pertemuan dengan penyajian prasaran dan tanggapan serta diskusi secara teknis mendalam. Dalam diskusi ini bila perlu diikuti dengan demonstrasi/peragaan masalah tersebut. Peserta lokakarya pada umumnya para ahli. Tujuannya mendapatkan konsensus/keputusuan bersama mengenai masalah tersebut.
Sangat luar biasa....!!!
Apa yang telah dilakukan teman-teman di UKM Fordimapelar tahun 2010 memang layak mendapatkan standing aplouse. Dalam kurun waktu 4 bulan, dari bulan Januari hingga April 2010, teman-teman semua telah berhasil menyelanggarakan 2 kegiatan besar yaitu:
1. Pelatihan Intuisi
2. Persembahan untuk Perempuan
Pencapaian tersebut belum termasuk dengan keberhasilannya melahirkan seorang penulis perempuan (baca: Rohana Handaningrum) yang patut diperhitungkan.
Tapi teman-teman jangan sampai euforia terlalu berlebihan, ada hal yang lebih penting dari sekedar kegiatan diatas. Yaitu persiapan menyambut generasi berikutnya, mahasiswa baru 2010. Menyambut tidak cuma mengucapkan selamat datang tapi juga menyiapkan segala sesuatunya, mempersiapkan Konsep Demo, Pameran, Pembinaan, Diklat, dan lain-lain.
Semakin dini kita persiapkan, pasti semakin baik apa yang kita hasilkan.
Ayo kembali berpegangan tangan untuk Fordi lebih maju...!!!
n.b.
Bagi yang mempunyai konsep pembinaan UKM Fordimapelar 2010, tolong dikirim. Terima kasih
oleh; Izul Fikri
Alumni (mantan Ketua Umum Fordimapelar)
Oleh Jairi Irawan*
Judul buku : SERIMPI
Penulis : Rohana Handaningrum
Penerbit : Jaring Pena
Cetakan : Pertama, Januari 2010
Tebal : vi + 138 halaman
SEMENJAK kisah terusirnya Adam dan Hawa dari surga, tercatat dalam kitab-kitab agama, “penyalahan” selalu tertuju pada Hawa. Tak lain karena Hawa--wanita pertama sekaligus cinta pertama Adam—penyebab kekasihnya itu memakan buah khuldi. Keduanya pun menjalani kisah di muka bumi. Mungkin ini yang diisyaratkan Tuhan dengan khalifatullah fil ardlh. Tetapi permasalahan yang muncul bisa berbeda dari yang diisyaratkan Tuhan.
Setelah kejadian itu berlalu, posisi perempuan tak pernah beranjak dari kelas nomor dua sebagai mahluk Tuhan. Meminjam istilahnya Simone de Bouvier bahwa perempuan merupakan the second sex dalam masyarakat.
Keadaan ini diperkuat kenyataan bahwa setiap pilihan menjadi sang utusan Tuhan, para nabi maupun rasul yang turun di muka bumi senantiasa jatuh pada laki-laki. Tidak ada nabi atau rosul berjenis kelamin perempuan. Sehingga amatlah sulit bagi perempuan untuk keluar dari “kungkungan” masyarakat untuk beraktualisasi layaknya laki-laki yang mendapatkan otoritas penuh langsung oleh Tuhan. Mau tidak mau perempuan tertunduk dengan sendirinya oleh dominasi laki-laki. Keadaan ini diperparah oleh adanya klaim-klaim dan tafsiran kitab suci dari pemeluknya yang beragam tentang agama bahwa wanita adalah mahluk yang harus diasingkan, dijauhkan dari laki-laki.
Sebegitu burukkah perempuan sehingga harus menjalani siksaan atas kesalahan atau “penyalahan” yang tak disengaja? Hal ini yang rupanya ingin dibelokkan oleh penulis kumpulan cerpen ini. Di balik takdir perempuan dengan segala kelemahan dan kekurangannya, ia memiliki sesuatu yang luar biasa, semangat, kerja keras, pantang menyerah, gigih, dan haus akan ilmu pengetahuan. Kilatan-kilatan kekuatan ini yang cenderung (sengaja) dilupakan oleh masyarakat petriarkhi.
Handaningrum yang jebolan psikologi sebuah universitas di Surabaya, mencoba melihat perempuan dari sisi dirinya yang merasakan segalanya sebagai perempuan. Ia benar-benar merasakan bagaimana rasanya menjadi perempuan yang selalu di kucilkan, yang mendapat stigmatisasi jelek di masyarakat, kelas dua dan sebagainya. Rasa dendam yang menghunjam di dadanya diungkapkan seluruhnya dalam kumpulan cerpen ini. Dengan kata lain istilah sindrom iri penis terungkap jelas dalam gaya penceritaannya.
Cerpen yang berjudul Parabhen yang berarti perawan dalam bahasa Madura cukup mewakili kediriaannya tentang kebenciannya terhadap laki-laki. Tokoh dalam cerpen ini digambarkan seperti seorang Roro Mendut, perempuan “perkasa” yang berhasil membuat gonjang-ganjing Mataram waktu itu. Tokoh “Ndut” lahir karena “ketidaksengajaan” ibunya bercinta dengan lelaki yang salah yang kebetulan ibunya juga adalah seorang tandha. Maka dari itu sampai beranjak dewasa ia bergelut dengan stigma masyarakat akan anak haram dan anak seorang sundel, julukan seorang pelacur. Dari situlah semacam dendam kesumat terpatri dalam dadanya.
Ia dengan aura Roro Mendut`nya telah mengalahkan beberapa lelaki. Ia berhasil meniduri bukan sebaliknya ditiduri laki-laki. Akhirnya ia menemukan laki-laki yang dianggapnya memiliki kecerdasan seorang pria. Kecerdasan yang berlandaskan logika bukan kecerdasan intuitif. Pertemuan itu semakin menekatbulatkan dirinya untuk dapat menaklukkan laki-laki. “…aku begitu tertantang melihatmu telanjang, aku ingin melihat berapa besar logika dan kecerdasanmu mampu mengalahkan gairah saat kau hilang akal dalam pemberontakan kama yang hendak kau muntahkan (hal. 23).
Rasa ingin menaklukkan tidak hanya sebatas perempuan Madura seperti dalam cerpen Parabhen. Dalam cerpen skandal dengan latar belakang dan tokoh Sunda juga demikian. Dengan begitu itu menggambarkan bahwa perempuan juga memiliki rasa yang sama dimana pun ia berada. Bagitu juga dengan perempuan Jawa yang dikenal “nrima” juga memiliki dendam dengan laki-laki.
Bukan sekadar itu, dalam kumpulan cerpen ini, penulis juga menyelipkan cerita betapa perempuan juga menginginkan keadilan dalam hal pendidikan. Pendidikan tidak hanya milik kaum laki-laki saja. Pendidikan dianugerahkan untuk semua makhluk. Tak terkecuali perempuan. Rupanya ini garis besar kumpulan cerpen ini, karena pendidikanlah yang mendasari kesadaran diri. Pendidikan sebagai suatu penyadaran diri.
Handaningrum selain menjadi aktivis mahasiswa ia juga seorang pegiat di salah satu LSM yang mengurusi perempuan. Ia dengan gigih bagaimana pendidikan bisa menjangkau perempuan dan mengangkat derajat perempuan sejajar dengan laki-laki. Ia terinspirasi oleh tokoh Nyai Ontosoroh, tokoh pemberontak novel bumi manusia karya Pramoednya Ananta Toer. Semua manusia memiliki mimpi dan cita-cita baik itu anak bangsawan, presiden, atau hanya anak seorang tukang pemulung (hal. 24).
Bila dalam agama peran perempuan sudah tidak ada calah untuk bisa sejajar dengan laki-laki maka pendidikan adalah satu-satunya yang bisa member jawaban. Dengan pendidikan manusia akan menjadi manusia seutuhnya. Hal ini juga sesuai dengan Undang–Undang Nomor 20 Tahun 2003. Melalui pendidikan seseorang akan menemui “kemanusiaannya” sehingga akan tetap bersikap “manusia”. Potret yang ia angkat keseluruhan berangkat dari pendidikan. Ia berpendapat bahwa pendidikan akan menjadikan perempuan cerdas dan kelak akan menciptakan generasi yang cerdas (hal. 126).
Lukisan pengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan tergambar lugas dan jelas dalam cerpen terakhir yang juga dijadikan judul kumpulan cerpen ini. Perempuan sebagai pendidik utama generasi bangsa haruslah memiliki kompetensi yang bagus, pengetahuan yang luas, dan kecerdasan yang mumpuni.
Dapat dibayangkan bila perempuan-perempuan yang menjadi “tiang rumah tangga” adalah wanita yang utun—istilah yang digunakan untuk menyindir orang yang tidak memiliki pengetahuan sama sekali, lugu akan kenyataan keras sehari-hari. Maka bisa disimpulkan generasi yang dihasilkan adalah generasi-generasi yang kelak akan menjadi gedhibal masa depan dan masyarakat, generasi-generasi yang juga utun sama seperti yang mengajarkannya.
Bagi saya seandainya perempuan Indonesia memiliki jiwa pendidikan seperti Kartini, keberanian seperti Cut Nyak Dien sangat memungkinkan Indonesia akan bisa terbebas dari ke-utun-an. Dan buku ini adalah tepat sebagai bacaan bagi perempuan yang ingin seperti mereka. Dan bagi laki-laki yang masih memandang perempuan sebagai “bawahannya” tentunya buku ini setidaknya akan menghentakkan logikanya. Dan pastinya seperti itu. Wallohua’lam bishshowab.
* Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga dan aktif di Center for Religious and Community Studies (CeRCS) Surabaya.
Graha Wiyata Lt. 2,
Universitas 17 Agustus 1945,
Surabaya.
| : fordimapelar@gmail.com | |
| twiitter | : @fordimapelar |

